Agustus 31, 2010

Thank You for This Life, Lord

1 September 1988...now...1 September 2010
Tuhan, terimakasih buat 1 tahun lagi yang berlalu..


Terimakasih untuk orangtua yang selalu setia membimbing, mendukung, mendidik, mengayomi, menasehatiku...

Terimakasih untuk seorang kekasih hati yang begitu setia mendampingiku dalam suka maupun duka, mengingatkanku untuk makan,
mengingatkanku untuk berdoa,
dan menggenggam tanganku saat aku takut,
saat aku ragu,
menegurku saat aku salah
dan menyapu tiap tetes air mataku dengan senyumnya...

Terimakasih buat tiap kesempatan dalam setiap detik hidupku,
kesempatan untuk mengenalMu,
mengingatMu,
mendengar pengajaranMu tentang kehidupan..
MengenalMu adalah sebuah Anugerah, Bapa..
Anugerah yang membuat hidupku menjadi indah meski ditengah kegalauan..
Segala yang baik adalah dari Kau,
Kusadari nyata dalam kehidupanku, Bapa..
Beri aku hati yang semakin memandang Engkau,
semakin memahami rancanganMu,
semakin setia,
dan Amin.

Terimakasih buat seorang sahabat Emaus,
yang setia mengingatkanku betapa aku berharga dan indah.
yang memahamiku lebih dari aku memahami diriku,
yang selalu membelaku saat aku dicemooh dan direndahkan,
yang selalu memberi aku kejutan dengan ide-ide konyol dan fantastisnya..

Terimakasih buat adikku,
yang membuat aku belajar bersabar dan berkaca akan diriku di waktu remaja,
semoga aku boleh semakin menjadi kakak yang mengasihi, membimbing, memahami dia..

Terimakasih buat sahabat-sahabatku,
yang setia menerima aku apa adanya dan membuatku merasa berharga saat ada bersama mereka..

Terimakasih buat setiap orang yang setia mendoakanku,
setia mengingatku,
setia menegurku,
setia mengingatkanku
dan setia mendorongku untuk menjadi pribadi yang lebih baik..

Juga terimakasih buat setiap orang yang mencemoohku,
merendahkanku, 
membenciku,
karena mereka ada untuk membuatku semakin rendah hati
dan terpacu untuk membuktikan bahwa aku mampu bertahan,
bersamaMu..

Terimakasih buat setiap perkara yang Kau berikan dalam jalan-jalan hidupku,
yang menjadi cara bagiMu untuk membentukku,
mengajarku,
mendidikku,
menjadi semakin serupa gambaran dan kehendakMu..

Tuhan, ini surat cintaku..
Surat sederhana dari putri kecilMu,
kelinci putih kecilMu yang manja..

Maaf jika aku kadang terlalu naif..

Namun aku sungguh ingin bersyukur, Tuhan..
Aku mau..
Karena Engkau, aku ada..
Karena Engkau, aku bertahan..
Karena Engkau, aku Hidup..

Terimakasih, Papaku di Surga..
Terimakasih, Bundaku..

Sudah 22 tahun, Pa..
Aku merindukanMu...
^^ 



Agustus 27, 2010

Cukup Itu Berapa..?

Alkisah,
seorang petani menemukan seuah mata air ajaib.
Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya.
Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata 'cukup'.

Si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya.
Diambil beberapa ember untuk menampung uang kaget itu.
Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubuk mungilnya untuk disimpan disana.
Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya,
seluruh tempayannya,
bahkan mengisi penuh rumahnya.

Masih Kurang!

Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya.
Belum cukup,
dia membiarkan mata air itu terus mengalir
hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.

Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata "cukup"

Hampir semua pegawai selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target.
Istri mengeluh suaminya kurang perhatian.
Suami berpendapat istrinya kurang perngertian.
Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati.

Semua merasa kurang..kurang dan kurang..

Kapankah kita bisa berkata cukup?

Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya
Cukup adalah persoalan kepuasan hati
Cukup hanya bisa diucapkan orang yang bisa mensyukuri

Tak perlu takut berkata cukup.

Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.
"Cukup" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandek dan berpuas diri.

Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima,
bukan apa yang belum kita dapatkan.

Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup.

Mari kita belajar untuk mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini,
maka kita akan menjadi manusia yang bahagia..

.unknown.